Tuesday, July 25, 2017

Cycle

It's like a cycle.
Same problem. Same issue.
We fight. We're lost contact.
Then sorry.
Same promises.
Act like nothing happened.
Then? In a couple of days or weeks,
Repeat again. Over and over again.
Like a cycle.
And I'm getting tired of that.

Wednesday, October 28, 2015

Pilkada 2015, Pertuni: Kami Juga Butuh Sosialisasi

Minggu, 25 Oktober 2015


Slamet Riyadi, ketika ditemui di rumahnya

Surabaya - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Indonesia akan diselenggarakan secara serentak pada 9 Desember 2015. Menjelang penyelenggaraannya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya gencar melakukan sosialisasi kepada berbagai lapisan masyarakat di Surabaya, guna memberikan informasi yang berkaitan dengan Pilkada. Selain memasang alat peraga kampanye di sudut-sudut kota Surabaya, KPU juga memberikan sosialisasi kepada kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) menjadi salah satu kelompok yang berkesempatan mendapatkan sosialisasi langsung oleh KPU, yang diselenggarakan pada Kamis (15/10) di Balai Pemuda Surabaya. KPU mengundang sekitar 100 anggota Pertuni untuk menghadiri acara tersebut.
Materi sosialisasi yang diberikan oleh KPU adalah hak dan kewajiban masyarakat untuk memilih serta tata cara pemilihan. Hal tersebut diungkapkan oleh Slamet Riyadi, ketua Pertuni Surabaya ketika ditemui di rumahnya pada Minggu (25/10). Slamet menceritakan proses sosialisasi yang dilakukan oleh KPU. Pembicara dari KPU dan Pusat Pemilihan Umum Akses Penyandang Cacat (PPUA Penca) memberikan informasi seputar Pilkada, mulai dari siapa pasangan calon dalam Pilkada, visi dan misi dari masing-masing pasangan calon hingga penanganan jika terjadi pelanggaran. KPU juga memberikan penjelasan tentang template, alat bantu tunanetra untuk mencoblos. Cara penggunaan template adalah dengan memasukkan surat suara ke dalam template yang berisikan huruf Braille, sehingga para tunanetra dapat membaca surat suara dan mencoblos dengan benar. Nantinya KPU akan menyediakan template di setiap TPS untuk mempermudah para tunanetra melakukan pencoblosan. “Ada atau nggak ada tunanetra, di setiap TPS harus ada template,” ujar Slamet.
Meski sudah disediakan template, Slamet mengaku penyandang tunanetra tetap harus dibantu oleh orang lain. Template hanya berfungsi untuk membantu penyandang tunanetra agar dapat membaca surat suara, sehingga dapat mencoblos sendiri tanpa bantuan orang lain. Tetapi untuk memasukkan surat suara ke dalam template dengan benar, mereka masih membutuhkan bantuan. “Ya tetap harus dibantu, karena kita kan nggak bisa ngepasin sendiri kertasnya. Kalau terlalu ke atas, nanti foto pasangan calonnya nggak pas, nanti nyoblosnya salah,” terang Slamet. Setelah dibantu memasukkan surat suara ke dalam template, penyandang tunanetra juga harus dibantu untuk melipat surat suara dan memasukkannya ke dalam kotak suara. “Kalau ada tunanetra yang bilang nggak butuh bantuan, non sense itu mbak,” imbuhnya sambil tertawa.
Template sudah disediakan oleh KPU sejak pemilihan presiden pada tahun 2009. Keberadaan template bagi penyandang tunanetra merupakan hal yang penting. Selain untuk mempermudah dalam proses pencoblosan, penggunaan template juga berguna untuk menjaga rahasia. Selama ini, Slamet selalu merasa kurang yakin jika dibantu orang lain ketika mencoblos. “Ya bukannya su’udzhon, tapi takutnya dia punya pikiran atau kepentingan lain. Misal saya minta dicobloskan yang A, tapi dia nyoblos yang B. Saya kan nggak tahu dia jujur atau tidak,” ungkap pria berusia 50 tahun itu.
Sayangnya, KPU kurang menjelaskan tentang penggunaan template ke tingkatan bawah, yaitu TPS. Berdasarkan pengalaman Slamet selama mengikuti pemilihan umum di periode-periode sebelumnya, penjaga TPS seringkali tidak memberikan template untuk mencoblos. Dia malah menawarkan diri untuk mengantarkan Slamet ke bilik dan membantu mencobloskan. “Saya kan sudah sering nyoblos, kadang penjaganya itu ngomong gak usah wes tak terno ae (tidak usah, saya antarkan saja),” kata Slamet sambil menirukan ucapan penjaga TPS. Di lain kesempatan, penggunaan template di TPS malah disalahgunakan. Tidak jarang penjaga TPS menggunakannya untuk kipas-kipas. Oleh karena itu, KPU juga perlu memberikan sosialisasi kepada setiap TPS apa pentingnya template bagi penyandang tunanetra agar tidak disalahgunakan.
Slamet menuturkan, KPU selalu menggelar sosialisasi bagi para penyandang disabilitas setiap kali menjelang pemilihan umum. Tetapi baru kali ini KPU memberikan sosialisasi khusus untuk Pertuni. Permintaan tersebut berasal dari Pertuni, yang mengirimkan surat kerjasama kepada KPU untuk memberikan sosialisasi Pilkada kepada Pertuni. Menjawab permintaan tersebut, KPU mengundang para anggota Pertuni untuk menghadiri sosialisasi tatap muka mengenai Pilkada. “Tahun-tahun sebelumnya ya ada sosialisasi, tapi untuk umum nggak hanya Pertuni aja. Tahun ini Pertuni mengajukan sendiri ke KPU. Biar KPU tahu kalau Pertuni juga butuh sosialisasi,” ujar Slamet.
Menurut Slamet, sosialisasi yang diberikan oleh KPU belum efektif, karena KPU hanya memberikan sosialisasi secara teoritis saja. Masih banyak anggota Pertuni yang belum paham tentang cara pencoblosan yang dijelaskan. Template yang digunakan sebagai contoh pun masih menggunakan template untuk Pilkada 2010. KPU perlu memberikan sosialisasi yang mempraktekkan bagaimana cara mencoblos yang sesungguhnya, dengan menggunakan template untuk Pilkada tahun ini. “Insya Allah ada sosialisasi yang untuk praktek, tapi masih belum tahu kapan jadwalnya. Nanti nggak hanya tunanetra saja yang dapat sosialisasi, tapi kelompok disabilitas lainnya juga,” kata Slamet.
Pria yang juga bekerja sebagai guru di SLB A YPAB (Yayasan Pendidikan Anak Buta) Tegalsari itu berharap, teman-teman di organisasi Pertuni dapat menghargai fasilitas yang telah diberikan oleh KPU. Salah satunya dengan cara harus ikut berpartisipasi dalam Pilkada dan tidak golput. Soal siapa pasangan calon yang harus dipilih, itu bergantung pada kebijakan dan hati nurani masing-masing. Jika bisa, anggota Pertuni diharapkan memilih pasangan calon yang dapat memberikan akomodasi kepada kelompok disabilitas, khususnya tunanetra. Sebagai penyandang tunanetra, Slamet membutuhkan fasilitas di kota Surabaya yang bisa digunakan oleh sesama penyandang tunanetra. Misalnya trotoar atau jalur penyebrangan, yang ditambahkan fasilitas khusus untuk penyandang cacat. “Paling tidak biar tunanetra itu bisa sendiri, tanpa bantuan orang lain,” ucap Slamet. 

Monday, October 26, 2015

Proses Pencalonan Diundur, Sosialisasi KPU Dinilai Buruk

Sabtu, 24 Oktober 2015


Surabaya - Sosialisasi Pilkada yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya pada tahun ini dinilai buruk daripada tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut diungkapkan oleh Drs. A.H. Thony, M. Si, selaku Ketua Pokja Koalisi Majapahit. Ditemui di sela-sela kesibukannya, pria yang akrab disapa Thony ini menjelaskan faktor-faktor yang melandasi penilaiannya terhadap kualitas sosialisasi yang telah dilakukan oleh KPU menjelang Pilkada Surabaya 2015. Salah satunya adalah adanya keterlambatan dalam melakukan sosialisasi. Sosialisasi yang dilakukan oleh KPU dapat menggunakan berbagai cara. Selain publikasi melalui media massa, alat peraga juga menjadi salah satu alternatif cara untuk melakukan sosialisasi. Alat peraga tersebut dapat dipasang di tempat-tempat strategis dengan jumlah yang berimbang. Sayangnya, proses pencalonan walikota dan wakil walikota yang mengalami kemunduran hingga satu bulan menyebabkan sosialisasi yang dilakukan KPU terlambat. Akibatnya, baik pasangan calon maupun masyarakat sama-sama dirugikan. “Ketika sosialisasi (re: yang dilakukan oleh KPU) mundur, masyarakat rugi, calon juga rugi. Pasangan calon akhirnya tidak dikenal oleh masyarakat, sedangkan masyarakat juga tidak memperoleh informasi dengan cepat tentang pasangan calon,” ujar Thony.
Pengamanan alat peraga yang kurang juga menjadi alasan Thony menilai buruk sosialisasi yang dilakukan KPU. Tidak sedikit alat peraga yang baru saja dipasang lantas dirobek oleh pihak-pihak tertentu. Melihat kondisi alat peraga yang rusak, KPU tidak segera melakukan penanganan. Alat peraga yang rusak tersebut pun tetap terpasang. Menurut Thony, keadaan seperti itu tidak hanya merugikan pasangan calon saja, tetapi juga masyarakat Surabaya yang menjadi sasaran sosialisasi. Ketika ditanya mengenai bagaimana seharusnya pengamanan yang dilakukan oleh KPU, Thony mengungkapkan bahwa seharusnya KPU harus memiliki komitmen dengan warga untuk menjaga dan menjamin alat peraga tersebut tetap aman. “Apakah alat peraga itu dititipkan ke salah satu masyarakat yang berketempatan alat peraga itu atau tidak, kan begitu seharusnya,” imbuhnya.
Thony juga menilai KPU kurang menjelaskan program kerja dari para pasangan calon walikota dan wakil walikota Surabaya. Sejauh ini, KPU hanya menyuguhi masyarakat dengan nama dan foto dari pasangan calon saja. “Masyarakat sekarang ini buta, hanya disuguhi nama dan foto saja. Padahal masyarakat tidak butuh cawalinya ganteng atau tidak, cantik atau tidak, tapi program kerjanya. Lha sekarang program kerjanya yang penting malah tidak disosialisasikan,” ungkap Thony. Thony menegaskan seharusnya sosialisasi tidak hanya sekedar memberi informasi tentang siapa pasangan calonnya, tetapi program kerja dari masing-masing pasangan calon juga harus disampaikan dengan jelas. “Misalnya Bu Risma, mau membawa isu penting apa, mau menjanjikan apa. Pak Rasiyo juga begitu, menjanjikan apa,” tambahnya.
Sosialisasi yang dilakukan KPU kepada kelompok tunanetra juga menuai kritik dari Thony. Sosialisasi tersebut dinilai belum efektif. Menurutnya, berdasarkan pengamatan dalam pemilu-pemilu sebelumnya, KPU memang sudah melakukan sosialisasi, tetapi ketika pencoblosan kelompok tunanetra itu tidak diberikan fasilitas agar bisa berpartisipasi dalam pemilu. “Ya umpamanya mereka tinggal di panti, tapi di panti itu nggak disediakan TPS. Jadinya kan ya banyak yang nggak ikut nyoblos,” ungkap Thony. Pria berkacamata itu berpendapat, selain KPU memberikan sosialisasi, seharusnya KPU juga melakukan ‘jemput bola’. Golongan masyarakat tertentu yang memiliki kebutuhan khusus seperti penyandang cacat, tunanetra atau bahkan yang sedang sakit, perlu didatangi oleh panitia Pemilu ke rumah mereka masing-masing. Sehingga mereka bisa menggunakan hak suaranya dengan baik.
Kualitas sosialisasi yang buruk belum tentu mempengaruhi keputusan masyarakat untuk tidak menggunakan hak pilihnya atau golput. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Thony. Golput muncul dari berbagai hal, tidak hanya sekedar dari kurangnya sosialisasi, tetapi bisa juga karena masyarakat tidak percaya dengan pasangan calon atau apolitis, menganggap politik sudah tidak bagus lagi. Selain itu, alasan lain masyarakat memilih golput juga bisa karena memiliki kesibukan pada saat pencoblosan, sehingga tidak bisa berpartisipasi. “Justru kadang-kadang orang yang golput itu ngerti sebetulnya pemilu kapan, siapa calonnya, kualitasnya gimana, dia juga punya waktu untuk mencoblos. Hanya saja dia enggan untuk berpartisipasi, karena faktor trust politiknya sudah nggak ada,” kata alumnus Universitas Gajah Mada itu.
KPU memiliki peranan penting untuk mengurangi angka golput. Thony mengungkapkan seharusnya KPU mampu memberikan daya tarik kepada masyarakat dan menjelaskan bahwa pemungutan suara merupakan hal yang penting bagi masyarakat, sehingga masyarakat memutuskan untuk berpartisipasi. “Karena menurut saya ikut pemilu itu pintu untuk merubah kondisi menjadi lebih baik, pintu untuk merealisasikan keinginan-keinginan masyarakat,” ujarnya. Selain itu, KPU juga perlu menegaskan kepada masyarakat tentang komitmen-komitmen para pasangan calon dan apa saja program kerjanya, bukan hanya nama dan wajahnya saja.
Thony berharap, pada periode mendatang, KPU bisa melakukan sosialisasi secara berimbang. Lebih baik, dikembalikan pada sistem yang lama, dimana biaya alat peraga untuk sosialisasi ditanggung oleh masing-masing pasangan calon. “Kalau sistem yang sekarang ini kan hanya memindahkan beban saja, kalau dulu ditanggung oleh para pasangan calon, sekarang ditanggung oleh negara,” ujarnya. Pilkada tahun ini memang menggunakan sistem yang berbeda dengan periode-periode sebelumnya. Alat dan bahan yang digunakan para pasangan calon untuk berkampanye ditanggung oleh KPU. Tujuannya, agar para pasangan calon tidak mengeluarkan banyak biaya, sehingga ketika nanti terpilih menjadi walikota, mereka tidak melakukan korupsi untuk mengembalikan modal saat berkampanye. Hanya saja, sistem yang baru ini juga tidak efektif. Terbatasnya anggaran negara untuk sosialisasi Pilkada juga membatasi jumlah alat peraga yang dikeluarkan. Sosialisasi yang dilakukan pun tidak merata, sehingga tidak banyak yang mengetahui alat peraga yang telah dipasang. “Kalau modal dikeluarkan oleh negara, justru negara sudah dirugikan lebih awal. Sosialisasinya tidak kena, negara sudah mengeluarkan biaya, nggak efektif kan?” ucap Thony sambil menghisap rokoknya. Thony mengaku bahwa tidak ada sistem yang sempurna. Setiap sistem memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. “Serba salah jadinya. Semua ada plus minusnya. Kalau dikendalikan oleh negara melalui KPU, anggapannya baik ternyata juga enggak,” imbuhnya. 

Sambut Pilkada, SMA 4 Gelar Coblosan Ketua OSIS

Jumat, 23 Oktober 2015


Suasana Pemilihan Ketua Osis SMA 4 Surabaya

Surabaya - Euforia Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Surabaya yang akan dilaksanakan pada Desember mendatang mulai terlihat. Baliho dan umbul-umbul yang merupakan alat peraga kampanye sudah banyak terpasang di beberapa titik-titik di kota Pahlawan. Tak jarang, ada beberapa angkutan umum yang juga turut melakukan kampanye dengan menempel stiker pasangan calon di kaca belakang kendaraannya.
SMA Negeri 4 memiliki cara sendiri untuk ikut merasakan euforia Pilkada tahun ini. OSIS SMA Negeri 4 Surabaya melakukan simulasi pemilihan umum (Pemilu) dalam pemilihan ketua OSIS yang baru. Pemilihan ketua OSIS yang berlangsung pada Jumat (23/10) kemarin diikuti oleh seluruh siswa SMA Negeri 4 Surabaya, mulai dari kelas 10 hingga kelas 12. Ada 4 bilik dari kardus yang ditempatkan di joglo sekolah sebagai tempat para siswa mencoblos calon ketua OSIS. Sama halnya dengan Pemilu pada umumnya, para siswa mendapatkan satu surat suara, kemudian bergantian memasuki bilik dan mencoblos surat suara dengan paku yang telah disediakan dalam bilik, dan memasukkannya dalam kotak suara.
Nindy Zeal Mercury, selaku sekretaris OSIS SMA Negeri 4 Surabaya, mengatakan pelaksanaan pemilihan tersebut memang diselenggarakan untuk menyambut Pilkada Surabaya, mengingat semakin dekat dengan jadwal yang sudah ditentukan. Simulasi pemilihan diadaptasi dari tata cara pemilu yang selalu diadakan di Indonesia. Meski belum pernah berpartisipasi dalam pemilu-pemilu sebelumnya, Nindy mengetahui tata cara tersebut melalui televisi dan keluarga. ”Ya lihat dari televisi mbak, biasanya kan kalau mau pemilu selalu ditayangin di televisi gimana cara nyoblosnya. Kadang juga orang tua yang jelasin,” ungkapnya.
Ketika ditanya mengenai informasi Pilkada tahun ini, gadis yang duduk di bangku kelas 12 tersebut mengaku tidak banyak mengetahuinya. Nindy hanya mengetahui siapa saja pasangan calon wali kota dan wakil wali kota, tanpa mengetahui visi dan misinya. Dia mengaku tidak mendapatkan sosialisasi dari KPU mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Pilkada, baik tentang tata cara mencoblos dan visi misi dari para pasangan calon. “Aku malah nggak tahu kalau KPU ngadain sosialisasi. Selama ini aku tahu informasi tentang Pilkada dari televisi sama orang tua aja, kadang ya liat baliho yang dipasang di jalan-jalan. Menurutku ya dari situ aja aku dapet informasi Pilkada,” kata gadis berkerudung itu.
Muhammad Fajriansyah Danendra berpendapat lain. Cowok yang akrab disapa Fajri ini pernah mendengar bahwa KPU telah melakukan sosialisasi tentang cara melakukan pencoblosan. Hanya saja, ketika itu dia tidak berkesempatan untuk hadir dalam acara tersebut. “Iya pernah denger sih mbak, pas aku kelas 2 SMA. Tapi aku waktu itu nggak bisa ikut, lupa kenapa hehe.. kalau nggak salah temanku ada yang ikut kok. Katanya waktu itu dijelasin gimana cara nyoblosterus dibilangin kalau bisa harus ikut nyoblos jangan golput,” ungkap Fajri.
 Melewatkan sosialisasi yang pernah diadakan oleh KPU, tidak lantas membuat Fajri tidak peduli terhadap informasi Pilkada. Cowok berusia 17 tahun itu rajin membaca koran dan menonton televisi untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Tak jarang, dia melihat baliho-baliho pasangan calon yang dipasang di pinggir jalan. “Aku juga dijelasin sama bapak sih mbak. Bapak kan wakil RT, jadi ya dikasih tahu gambarannya Pemilu itu kayak gimana,” kata Fajri. Selain itu, Fajri juga mendapatkan materi tentang praktek Pemilu atau Pilkada dari pelajaran Pkn di sekolah. “Di sekolah juga diajarin tentang praktek Pemilu atau Pilkada itu kayak gimana, mulai dari urutan-urutannya juga,” imbuhnya.
Sebagai pemilih pemula, Nindy dan Fajri memiliki tanggapan yang berbeda terhadap Pilkada 2015. Meski ini baru pertama kali berpartisipasi dalam Pemilu, Nindy merasa biasa saja. Dia belum bisa memutuskan kepada siapa dia harus memilih. “Ya kalau nggak males aku nyoblos, kalau males ya enggak mbak, hehe..” ujar Nindy sambil tertawa. Nindy mengungkapkan alasannya, bahwa dia tidak terlalu tertarik dengan politik di Indonesia. Baginya, siapapun nanti yang memimpin Surabaya pasti merupakan pilihan terbaik yang dipilih oleh masyarakat.
Sebaliknya, Fajri merasa senang bisa berpartisipasi dalam Pilkada 2015 untuk pertama kalinya. “Aku sih excited banget, soalnya aku pingin tahu gimana kepemimpinan selanjutnya, dipimpin oleh siapa,” kata Fajri. Kesempatan untuk berpartisipasi pertama kali akan digunakan Fajri dengan sebaik-baiknya. Hak suara yang dia miliki akan digunakan untuk memilih siapa yang pantas untuk memimpin Surabaya di periode mendatang. “Kalau menurut aku pribadi, aku pingin milih soalnya eman, sia-sia kalau nggak dipake, soalnya suara itu penting untuk negara, apalagi kemajuan untuk Indonesia sebagai negara berkembang,” tambahnya.


Monday, June 23, 2014

i haven't talked with him in these few days. and it feels like.. ohh i'm gonna be crazy.
since the first day i didn't talk with him, i felt angry all the times.
i kept yelling to my little brother, i didn't speak too much with my mom.
everything was wrong in my eyes.
i did something to divert my mind. i was watching running man all day or playing games in my handphone.
i tried to keep myself away from my handphone, but i always checked my handphone whether if he called or texted me.
every hour i opened my social media like path, twitter or even line, to check what did he do, what happened with him, and where he was.
i can't handle this anymore. i want to talk with him. but i don't know how to do it.
i'm still mad at him, even a little. and it hurts me too much.
oh God, what should i do..

Tuesday, May 27, 2014

It's all about time

Masalah kita sekarang adalah waktu.
Rasanya, 24 jam sehari tidak cukup. 7 hari dalam seminggu pun kurang.
Apa artinya kalau kita tidak bisa menghabiskan waktu bersama di sela-sela waktu tersebut?
Maaf, ini salahku. Aku dan kesibukanku.
Ketahuilah, ini bukan inginku.
Bukan inginku untuk tidak menghabiskan waktu denganmu.
Mengertilah, aku sudah berusaha untuk menyediakan waktu luangku untukmu.
Setelah semua kesibukanku berakhir, kita bisa memiliki quality time berdua lagi.
Dan percayalah, tak ada sedetikpun yang berlalu tanpa memikirkanmu, merindukanmu.
Kamu selalu ada dalam pikiranku, sesibuk apapun aku.

Friday, March 28, 2014

Kalau kamu ingin pergi, terbanglah yang jauh.
Cari apa yang kamu inginkan sampai dapat.
Temukan dimana tempat yang paling nyaman untukmu.
Kejar apa yang menurutmu terbaik.
Hingga akhirnya kamu akan sadar,
Yang kamu cari sudah kamu dapatkan.
Tempat yang paling nyaman sudah kamu temukan.
Apa yang menurutmu terbaik sudah kamu genggam.
Kenyataannya, tidak ada yang lebih baik selain disini.

Wednesday, March 19, 2014

The moment

The moment when you tell your boyfriend what's going on with you, and he listens to you carefully, then when you finish it, the only thing he does is kissing your forehead and asking you to calm down. By the time, you realize that even he doesn't give you any solutions, he just want to convince you that he won't let you alone to face your problems. All you need is he right there beside you. Always.

Friday, March 14, 2014

akan tiba saatnya

akan tiba saatnya,
ketika aku dapat mencium punggung tanganmu
dan kamu mencium keningku,
tanpa harus membatalkan wudhu.. 

Friday, February 21, 2014

Dulu dan sekarang

Dulu, waktu masih kecil, selalu berpikiran jadi orang dewasa itu enak.
Bebas mau ngapain aja, pergi ke mana aja.
Nggak bakalan dimarahin kalo nggak belajar.
Dulu, selalu heran kenapa kakak lebih suka pergi sama temen-temennya daripada sama keluarga.
Padahal keluarga lebih menyenangkan.
Kenapa kakak jarang ada di rumah.
Padahal rumah adalah tempat yang paling nyaman di dunia.

Ternyata semakin dewasa semuanya berubah..

Sekarang, waktu sudah dewasa, intensitas dimarahinnya semakin sering.
Untuk hal yang sepele sekali pun, bahkan hal yang besar.
Sekarang, aku sadar kenapa dulu kakak lebih suka pergi bersama temen-temennya.
Kenapa kakak jarang ada di rumah.
Karena bersama teman lebih menyenangkan.
Karena rumah bukan lagi tempat yang paling nyaman.